Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2020

KUMAN JENAKA

Ha..ha..ha .. Itu ungkapan bahagia Dari sekaleng recehan Gemerincing yang memecah keheningan Aku menjadi tak berharga Ketika terlambat tertawa Hu..hu..hu.. Ternyata aku tak mengerti isi leluconnya Seketika.. Dunia seakan-akan tak berpihak padaku Semua menatapku Seperti makhluk telmi yang aneh Tatkala flu datang Membanjiri dua gua Pandangan temaram Dahi mendidih Rakungan kemarau, serak Mereka datang dengan penawar Sekutu segala haluan Terserempak.. Semua lenyaaa...p seperti terhisap Apakah mereka pesulap? Atau tabib? Bukan.. Mereka hanyalah sahabat kuman Dengan milyaran remahan bahan guyonan Membentuk paduan suara tawa Ha.. ha.. ha.. Lepas..terbahak-bahak Lepas jua urat-urat Mereka... Kerupuk renyahku Garing.. gurih, manis untuk dikenang Pahit untuk dibuang Memang pantasnya.. Disayang-sayang

MELAMPAUI BATAS SENDU

Gambar
Tatkala mentari telah lelah dengan sinarnya Cahaya rembulan tak lagi menenangkan Dalam menerangi gelap sunyi malam Bumi yang akan menjadi dasar nestapa Bagi siapa saja yang terlampau congkak Memperoleh keuntungan dengan tamak Tak bertanggung jawab! Bisakah kau jaga alang-alang permai itu? Belas kasih dengan flora Demi fauna, dan kita? Yang bersendu menatap persinggahan mereka Yang terkikis perlahan menyedihkan Lihat dan perhatikan sejenak saja Betapa banyaknya penghuni hutan berlarian ketakutan menuju kota.. Mereka bukan mengganggu Mereka hanya mengadu, mengisyaratkan Agar tidak kau usik kehidupan yang tenang Segeralah bersiap diri Untuk menyambut deraan pahit Tatkala ombak di lautan tak lagi berderai tentram Niscaya dataran gemas Ingin menghempas siapa saja yang singgah di atasnya Tatkala hutan tak lagi menjadi penyejuk Menjadi ganas berapi-api Niscaya langit bergemuruh Siap sedia untuk menjatuhkan meteornya Tatkala awan yang bertabut menjadi kelabu N...